Tidak Mendengar Suara Rakyat!, ForBALI Gelar Teatrikal Bangke Maong Untuk DPRD Bali

0

DENPASAR/terbitdotco – Hampir 6 tahun rakyat Bali melakukan penolakan terhadap rencana reklamasi di Teluk Benoa. Sore tadi Minggu (23/6), rakyat Bali kembali melakukan aksi parade budaya di depan Kantor DPRD Bali.

Massa memulai aksi long march dari parkir timur lapangan Niti Mandala Renon menuju arah depan monumen Bajra Sandhi dan DPRD Bali.

Seperti beberapa aksi yang pernah dilakukan, parade budaya sore tadi kental dengan nuansa budaya. Parade budaya kali ini selain diisi oleh band Geekssmile juga ada teatrikal Bangke Maong dari ForBALI.

Saat di depan Bajra Sandhi, diisi oleh orasi-orasi diantaranya dari perwakilan Karangasem, Tabanan, Desa Adat Sumerta dan Desa Adat Lebih, kemudian dilanjutkan dengan penampilan band Geekssmile.

Setelah penampilan Geekssmile, massa mepanjutkan longmarch menuju gedung DPRD Bali.

Ada yang unik dilakukan didepan gerbang gedung DPRD yang tertutup rapat ini. ForBALI melakukan teatrikal Bangke Maong untuk DPRD Bali.

Sebuah bangke maong yang disimpan dalam keranda jenazah diusung mengitari jalan yang diikuti alunan musik angklung Bali. Seorang peserta dari komunitas Leak Sanur menuntun parade budaya dengan orasinya yang mistis.

Kemudian muncul 4 (empat) rangda yang mengoyak-ngoyak bangke maong tersebut yang berisikan sebuah spanduk bertuliskan “Turut Berduka Cita Atas Matinya Perwakilan Suara Rakyat”.

Sepanduk tersebut kemudian ditancapkan dibawah baliho DPRD Bali yang berada disisi kanan gerbang, dilengkapi pula dengan karangan bunga duka cita.

Wayan Gendo Suardana, Koordinator Umum ForBALI dalam orasinya menyebut bahwa hari ini ForBALI berkabung atas matinya perwakilan suara rakyat yang berkantor di gedung tersebut.

Lebih jauh Gendo menegaskan anggota DPRD Bali yang tidak berani bersikap menolak reklamasi Teluk Benoa, sejatinya bukanlah orang-orang terhormat pada posisinya saat ini.

“Para wakil rakyat yang berkantor di gedung DPRD ini menikmati gaji puluhan juta rupiah tiap bulannya ditambah berbagai fasilitas namun mereka tidak mewakili suara rakyat,” ujarnya.

Gendo menyampaikan simbol bangke maong dalam parade budaya hari ini untuk menggambarkan DPRD Bali secara kelembagaan yang telah mati rasa terhadap aspirasi rakyat.

“Mereka hanya mewakili rakyat untuk hidup nyaman dengan berbagai fasilitas dan berkedok pada perjuangan rakyat perihal menolak reklamasi Teluk Benoa namun mereka tidak punya nyali untuk melakukan tindakan nyata, mereka ibarat bangke maong, bangkai yang tidak berguna,” tegasnya.

Disisi lain Gendo juga menyebut karma Teluk Benoa pasti akan berjalan, siapa yang tulus membela dan siapa yang tidak masing-masing akan menerimanya.

“Namun bukan berarti kita hanya diam menunggu karma bertindak, kita harus terus bergerak berjuang,” tambah Gendo.

Aksi yang berlangsung hingga pukul 17.00 wita tersebut ditutup dengan aksi tabur bunga didepan spanduk tepat dibawah baliho DPRD sebagai simbul berkabungnya rakyat Bali terhadap matinya perwakilan suara rakyat.

Setelah tabur bunga massa kembali menuju parkir timur dengan tertib sembari memungut sampah yang ada di areal depan gerbang DPRD Bali. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.