Sebuah catatan dari Rockteba: Tersesat dalam Rock di Teba

Rai Astrawan, Penulis adalah pemilik zine yang bernama I Ni Timpal Kopi

0

Berawal dari sebuah unggahan di media sosial, dengan logo seekor ayam jago, lengkap dengan jengger menjulang tegang menantang karena tidak disasat (istilah lokal untuk memotong jengger ayam jago). Di bawah gambar ayam jago tertera Rockteba, Rock dan Teba, dua kata yang alih-alih dipisahkan malah dikawinkan untuk menghasilkan Rockteba.

Ketika pertama membaca kata tersebut, ada kesan janggal dan terasa dipaksakan, kesan yang sirna karena kekuatan kata teba, yang langsung menarik ingatan akan tempat kosong di belakang rumah.

Unggahan yang memicu keingintahuan mencari lebih lanjut dan akhirnya berujung pada sebuah poster acara, Rockteba edisi 01, 15 Juli 2018 di Teba Duwe Puri Blahkiuh keterangan menunjukkan tanggal dan lokasi penyelenggaraan serta lengkap dengan barisan grup band rock yang akan tampil sebagai pengisi acara.

***

Teba merupakan lahan kosong dibelakang rumah, tempat yang menjadi ruang untuk aktivitas penghuni rumah, mulai dari membuang sampah dapur, tempat anak-anak bermain, muara air hujan dari halaman rumah, sampai menjadi lokasi kencing atau bahkan BAB.

Aktivitas yang membuat beberapa pohon buah tumbuh tanpa sengaja ditanam, sebagian besar yang tumbuh merupakan buah-buah yang telah atau terlambat dikonsumsi dan akhirnya dibuang di teba, bahkan jika yang tumbuh adalah cabai atau tomat tidak menutup kemungkinan merupakan hasil dari benih dengan daya hidup yang luar biasa, berhasil melewati proses metabolisme tubuh manusia, dan bersama sisa-sisa kotoran tubuh yang lain dikeluarkan di teba.

Masa itu adalah ketika higienisasi belum menguasai alam bawah sadar warga yang akhirnya membuat kebanyakan orang akan berkata jorok ketika melihat orang membuang hajatnya di teba atau tlabah, dan kemudian sepakat jika buang hajat harus di kamar mandi.

Bertambahnya jumlah penduduk yang berarti meningkatnya kebutuhan akan bangunan, meningkat nilai ekonomis tanah, serta perubahan perilaku hidup tanpa disadari menjadi beberapa faktor yang menghilangkan keberadaan teba. Semakin banyak bangunan berdiri, dan semakin banyak pula pekarangan kehilangan tebanya. Bahkan tidak jarang teba yang kebetulan memiliki pemandangan yang cukup menjual akan beralih fungsi menjadi akomodasi wisata.

Menurunnya keberadaan teba tentu juga berpengaruh pada semakin sempitnya ruang gerak penghuninya, tempat mesliahan (keluar mencari kesegaran) paling dekat pun telah hilang dan semakin sulit dijumpai. Aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan di teba seperti buang hajat secara bebas misalnya tentu sudah mungkin bisa dilakukan ketika teba itu sendiri sudah tidak ada.

“Awalnya dari sebuah obrolan santai dengan teman-teman, kemudian juga ada beberapa referensi dari media sosial, kemudian tercetus ide kenapa kita tidak buat sendiri,” kata Pasek, penggagas acara ketika ditanya mengenai ide awal mereka membuat RockTeba. “Konsepnya sebenarnya ya kembali ke teba, kita di Denpasar sube sing ngelah Teba (sudah tidak punya Teba), jadi artinya kita butuh kesegaran lah,” imbuhnya.

Ingatan dan kerinduan akan hal-hal kecil yang biasa dilakukan mendorong beberapa pemuda untuk membuat acara di Teba, ditambah referensi informasi tentang pagelaran acara music di alam yang dapatkan dari media sosial, dipadukan dengan keresahan dan situasi lokal yang terjadi di Bali. Keresahan melihat situasi bahwasanya area alam yang pada awalnya menjadi bagian yang lekat dengan pekarangan rumah mereka kini sudah hilang dan langka.

Sayangnya, menemukan teba yang bisa digunakan untuk menyelenggarakan sebuah acara tentu tidak semudah menemukan gedung atau restoran bersedia disewa untuk pagelaran acara. Melalui jaringan pertemanan, akhirnya pemuda-pemuda ini akhirnya mendapat sebuah teba milik Puri Blahkiuh.

***

Masuk melalui pintu sebuah pemandian umum yang konon merupakan pemandian bangsawan raja pada zamannya, menyusuri jalur sempit yang dibatasi dinding kolam renang di sisi kiri dan dinding pemandian disisi kanan, dinding yang menggunakan bata merah yang telah bopeng dan ditumbuhi beberapa rumput dan semak.

Jalur yang memisahkan dua alasan dan dua kepentingan terkait penggunaan air, yang satu menggunakan air sebagai komoditi penghasil uang, berolahraga dan bersenang-senang, sementara yang satu menggunakan air sebagai pembasuh peluh yang menempel akibat aktivitas yang dilalui sepanjang hari.

Deras air sisa persawahan yang dibuang ke kali menyambut lebih dahulu, diikuti dengan anak tangga dengan aksen warna hijau oleh lumut yang tumbuh oleh lembab akibat keberadaan pohon-pohon besar di kanan dan kiri tangga. Sebuah gapura dari bambu yang sengaja dibuat untuk keperluan acara berdiri, di bagian atas ROCKTEBA dibubuhkan, sebagai petunjuk memasuki area acara.

Sebuah instalasi berbentuk sangkar terbuat dari bambu berdiri tepat ditengah-tengah, instalasi yang sekaligus menjadi panggung bagi musisi yang akan tampil di acara Rockteba vol. 1. Beberapa triplek kosong berdiri, tersebar di beberapa titik di dalam area acara, beberapa triplek dengan formasi menghadap ke panggung utama, seolah mereka adalah bagian dari penonton yang akan menyaksikan para musisi yang tampil. Triplek tersebut menjadi media bagi para seniman mural yang menjadi bagian dari pengisi acara hari itu.

Sebuah banner besar dipasang di pintu masuk masuk area lokasi acara, banner yang memuat logo ayam jago lengkap dengan ROCKTEBA di bawahnya, dua komunitas yang terlibat (GAGAD ORGANIK dan EMBUN PAGI) serta sponsor lokal yang men-support acara berdasarkan jaringan perkawanan.

Waktu sekitar jam 12 siang, awan mendung menggantung diatas pohon-pohon rindang, beberapa wajah cemas tidak bisa ditutupi. Perasaan cemas jika tiba-tiba hujan turun dan berpotensi membuat acara akan jadi sedikit tidak sesuai dengan rencana mereka, perasaan cemas yang memicu tepuk tangan spontan dari beberapa orang ketika cahaya matahari perlahan berhasil masuk menerobos mendung dan kerindangan pohon.

Satu persatu tukang mural hadir, dan mulai beraksi dengan cat dan triplek yang mereka pilih, demikian juga beberapa musisi terlihat datang, bergantian dengan penonton yang memutuskan sedikit bersusah payah mau mengikuti panduan dari peta online mencari lokasi acara yang memang tidak biasa.

Tidak biasa karena secara umum pagelaran musik akan diselenggarakan di tempat yang luas, mudah didatangi seperti GOR, Pantai atau beberapa tempat yang memang menyediakan lahan untuk penyelenggaraan acara musik.

Setelah proses cek sound tuntas, MC canggung yang bicara dari kerumunan penonton membuka acara dengan singkat padat dan (mungkin bisa dianggap) sedikit lucu.

Rockteba dibuka dengan penampilan Gumatat Gumitit Go Spell, project elektronik eksperimental dari Agha Daksa, vokalis grup band Rollfast yang juga dijadwalkan tampil hari itu. Suguhan musik yang entah secara kebetulan, membuat mendung berhasil tertiup menjauhi lokasi acara.

Line up yang dipercaya memberikan alunan nada distorsi di acara Rocktoba memang tidak bisa diremehkan, selain Gumatat Gumitit Go Spell dan Rollfast, ada pula Jangar, Advark, Palanxosong, Nobeleaf, Zat Kimia dan Geeksmile.

Setelah penampilan pertama dengan alunan experimentalnya, Jangar menjadi penampil ke dua, hari masih cukup terang, penonton semakin ramai dan sedang dalam situasi menyesuaikan diri dengan aura lokasi acara. Area di hadapan panggung masih lenggang, penonton yang hadir masih dalam kerumunan masing-masing. Beberapa diantaranya baru dalam usaha membangun suasana dengan bantuan sebotol orson tuak di tangan.

Setelah hentakan Jangar, acara dilanjutkan dengan penampilan Rollfast, band rock psychedelic menarik audiens masuk dalam alunan musik mereka. Selain tampilan para personil yang segar (jika tidak mau disebut klimis dan hanya menyisakan satu personel yang berambut gondrong), sang vokalis juga terlihat membawa serta instrumen lauchpad dan synthesizer, Instrumen yang digunakan ketika tampil sebagai Gumatat Gumutit Go Spell. Beberapa tembang yang dibawakan masih asing terdengar mengingat merupakan materi baru, hanya Baby 69 lagu dari album pertama mereka yang digeber pada penampilan kali ini.

Ada kerinduan tersendiri melihat Rollfast tampil di panggung yang tidak biasa seperti Rockteba, panggung yang membuat mereka tampil lebih bebas dengan improvisasi-improvisasi yang bisa menjadi kejutan tersendiri dan belum tentu bisa ditemukan ketika mereka bermain di panggung yang lain.

Hari semakin temaram, penonton yang hadir semakin banyak dan mulai duduk melingkar di dekat panggung ketika Zat Kimia, menjadi penampil selanjutnya. Musisi yang telah dan belum tampil, juga terlihat berbaur diantara penonton, dalam obrolan-obrolan kecil atau ikut serta larut menganggukkan kepala menikmati musik yang mengiringi lirik yang disenandungkan oleh Ian Stevenson sang vokalis.

Goyangan-goyangan kecil mulai tampak mengikuti alunan nada, beberapa tepuk tangan penonton juga terdengar ketika sang vokalis mengatakan bahwa lagu selanjutnya yang akan dibawakan berjudul “Waktu dan Aku” salah satu single dari album Candu Baru, album pertama Zat Kimia.

Beberapa penonton mulai berteriakan Reaktan, salah satu judul lagu mereka dengan keinginan si empunya lagu memainkannya hari itu, sayangnya sang vokalis memilih untuk memainkan lagu “Candu Baru” sebagai lagu pamungkas menutup penampilan mereka sandikaon itu (suasana peralihan dari temaram senja ke gelap malam ).

Hari semakin gelap, seorang aparat polisi terlihat di sudut di belakang panggung (belakang drum, bentuk panggung melingkar dan penonton yang bebas mengakses setiap sisi panggung membuat definisi depan belakang benar-benar sirna di Rockteba, batasan-batasan yang memang harus dibebaskan ketika masuk ke Teba).

Botol-botol kosong terlihat teronggok diatas rumput, diantara interaksi orang-orang yang hadir hari itu yang semakin cair, obrolan yang semakin intim penuh canda gurau dan tentu saja usapan kuas seniman mural, memberikan sentuhan akhir bagi karya mereka masing-masing diatas tripleks yang disediakan panitia. Para tukang mural yang hari itu terlibat berkarya diantaranya, Jarart, Pansaka, Kuncirsv, Puckout.co, Jesart, Jombol 87 dan Timmy The Turtle (pastikan mencatat dan tidak salah menuliskan dan mengeja nama yang terakhir).

Geeksmile menjadi group selanjutnya yang mendapat giliran memberikan suguhan nada bagi orang-orang serta Gumatat Gumitit (yang oleh kepercayaan lokal juga tinggal di Teba) yang hari itu ada di ruang dan waktu yang sama. Napalm Drive dihentak, seolah tidak ingin menurunkan mood yang sudah dibangun oleh band-band yang main sebelumnya, lagu yang langsung memicu penonton untuk merangsek ke panggung.

Disusul dengan lagu ke dua, “sebuah lagu yang kami dedikasikan malam hari ini untuk teman-teman kita yang melawan Reklamasi Teluk Benoa, ini untuk kalian yang sudah mengayah di jalanan, Street Junkie” kata Prima, vokalis Geeksmile sebelum suara ketukan stik drum dan sayatan gitar Made bayak mengawali intro lagu Street Junkie, yang diikuti dengan gerakan tubuh penonton yang semakin menggila. Disusul lagu selanjutnya “Bayang tak Berwajah” yang secara otomatis meembuat penonton yang ikut bernyanyi.

Mereka juga tidak ketinggalan menyajikan lagu baru sebelum akhirnya menutup penampilan mereka malam itu dengan lagu “yeah..yeah..yeah.. Indonesia”. Malam itu, ramuan lirik keras dan luas ditambah sayatan musik penuh distorsi seolah menjadi klimaks yang membawa penonton larut.

Klimaks yang masih berlanjut ketika band selanjutnya Advark tampil. penampilan yang berhasil membuat beberapa penonton melakukan gerakan mosing diatas lantai rumput dan daun kering, melampiaskan kebebasan di area alam yang kian menyempit dan langka.

Hari semakin malam, setelah suguhan Mathcore dari Advark, Palanxosong tampil menurunkan tensi, perpaduan gitar akustik, kajon dan rap membawa penonton sedikit melemaskan diri. Pelemasan yang bukan berarti terjun bebas, “berita cuaca” dari gomloh berhasil di cover dengan manis, lantunan tentang alam lestari yang perlahan mulai hilang menggema di tengah rindang pepohonan, kerindangan yang menjadi sesuatu yang mahal, ketika kesegaran harus dibayar dengan perhitungan 1000 rupiah per KWH.

Rockteba vol. 1 ditutup dengan penampilan Nobeleaf, band bernuasa reggae, menjadi sebuah sajian pendinginan, menarik semua euphoria kebebasan di alam untuk menarik nafas, tenang dan santai, sambil kembali mengais-ngais kesadaran, karena masih ada jarak yang harus ditempuh dengan perjalanan ditengah malam yang dingin sebelum bisa sampai di rumah.

***

Rockteba hari itu, 15 Juli 2018 berhasil membuat memberikan pengalaman unik, pengalaman baru menikmati teba tanpa kehilangan esensi kebebasan dan keintiman bermain serta keceriaan anak-anak pada masanya yang masih bisa menikmati Teba.

Memadukan suasana kehidupan khas teba dengan tumbuhan enao, pepohonan tinggi, beberapa orang tua melintas dari sawah atau hendak pergi mandi, dedaunan kering, lumpur, (jika ada yang kurang mungkin aroma khas feses yang biasa tercium di teba) dengan sentuhan seni musik (rock), mural bahan instalasi.

Konsep sederhana yang berhasil menggerakkan orang kembali ke teba, kembali untuk melakukan kehendak lain dalam hal ini kehendak menikmati musik rock dengan suasana alam yang intim.

“Pengen kita buat setahun sekali, di waktu liburan sekolah seperti ini kan cukup bagus juga waktunya untuk kita rekreasi” Pasek menjelaskan mengenai rencana keberlangsungan Rockteba.

“Ini Rockteba jadi salah satu destinasi rekreasi kita sebagai orang-orang biasa di kota atau tinggal di kota, dan teman-teman di kampong pun juga butuh hiburan juga” lanjut pria yang juga terlibat di Gadgad Organik dan menjadi Drumer band Jangar.

Rockteba berhasil membangkitkan ingatan akan teba, dan dengan sentuhan kebudayaan musik rock, mengembalikan fungsi teba sebagai sebuah ruang rekreasi yang menawarkan kesegaran diantara desakan struktur kaku yang kian menghimpit.(*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.