Robi Navicula Puasa Plastik Sekali Pakai Selama Bulan Suci Ramadhan

0

DENPASAR/terbitdotco – Plastik sekali pakai seperti kantong kresek dan sedotan merupakan jenis plastik yang paling mencemari lingkungan.

Menurut hasil penelitian Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP) Universitas Udayana, 45% jenis sampah yang ditemukansepanjang pesisir Pulau Bali adalah plastik ‘lunak’ seperti plastik kemasan makanan, sedotan, dan kresek. 

Di Bulan Ramadhan ini, Gede Robi, vokalis band Navicula dan aktivis lingkungan, turut menjalankan puasa dengan berpuasa produk plastik sekali pakai.

Hal ini dilakukannya sebagai bentuk kepeduliannya terhadap isu plastik yang membahayakan lingkungan, apalagi perayaan Idul Fitri tahun ini bertepatan dengan perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, tanggal 5 Juni 2019 mendatang. 

“Sampah plastik telah menjadi ancaman serius bagi kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. Jika tujuan ibadah puasa adalah mengamalkan perbuatan-perbuatan baik terhadap sesama manusia dan dunia, maka saya menjalankan puasa plastik sekali pakai demi bumi yang lestari. Bukankah kebersihan adalah sebagian dari iman?,” kata Robi. 

Melalui tagar #PuasaPlastik di media sosial Instagram, Robi menekankan bahwa semangat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dapat dimulai dari sendiri.

Dalam setiap unggahannya, ia berbagi kegiatan dan usaha-usaha yang dilakukannya selama berpuasa plastik, serta mengundang para pengikutnya di Instagram untuk berbagi tips dan pengalaman dalam mengendalikan penggunaan plastik sekali pakai selama bulan Ramadhan.

Salah satu aksi nyata dan sederhana yang disebutkannya secara berulang-ulang dalam rangka #PuasaPlastik ini adalah tidak menggunakan plastik sekali pakai, seperti tas kresek, sedotan, dan styrofoam, serta membawa tempat makanan atau minuman sendiri saat makan di luar. 

“Kita perlu sepakat tentang 3R: Reduce, Reuse, Recycle. Kegiatan daur ulang dan kegiatan bersih-bersih tetap diperlukan tapi ini adalah solusi hilir dan bukan solusi satu-satunya. Saat ini kita seperti sibuk mengepel lantai basah, sementara ember sudah meluap dan air keran tetap terbuka. Dengan demikian, kita juga harus memikirkan solusi di daerah hulu, yaitu pengurangan. Reduce adalah menutup keran,” jelasnya. 

Bersama Pulau Plastik, sebuah kolaborasi lintas sektor antara Yayasan Kopernik dan Akarumput yang bertujuan mendorong kesadaran masyarakat lokal untuk mengurangi pemakaian plastik sekali pakai serta mengelola sampah dengan lebih baik, Robi turut bergerak bersama Komunitas Peduli Sampah (KPS) dalam upaya penguatan dukungan terhadap kebijakan Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kota Denpasar terkait pelarangan plastik sekali pakai.

Dalam waktu satu bulan saja, KPS telah mengumpulkan lebih dari 100.000 tanda tangan untuk petisi “Asosiasi Daur Ulang Plastik (ADUPI): STOP Uji Materi Pelarangan Plastik Sekali Pakai di Bali!” dalam rangka mendukung Pergub Bali dan Peraturan Walikota Denpasar ini.

Diharapkan peraturan pelarangan plastik sekali pakai ini dapat seterusnya diberlakukan di Kota Denpasar, serta Pergub Bali dapat segera disahkan sehingga timbulan sampah plastik di Pulau Dewata dapat terus-menerus berkurang. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.