PLTU Batubara, Ancaman Bagi Masyarakat dan Ekosistem di Buleleng

Rencana PLTU Celukan Bawang tahap II mendapat tentangan dari Greenpeace Indonesia. Mereka beralasan PLTU Celukan Bawang tahap II yang menggunakan bahan bakar batubara memiliki potensi mengganggu kesehatan masyarakat, merusak kawasan wisata Pantai Lovina, Coral dan Taman Nasional Bali Barat.

0

DENPASAR/terbitdotco – Rencana perluasan PLTU Celukan Bawang tahap II yang menggunakan bahan bakar batubara memeliki potensi merusak kawasan wisata Pantai Lovina yang populer dengan pantai pasir hitam, terumbu karang, dan lumba-lumba. Hal ini disampaikan Greenpeace dalam temu media pada Jumat (13/7) di Denpasar.

Analisa ini berdasarkan pemodelan dari Universitas Harvard, yang mana menunjukkan dampak berbahaya bagi kesehatan masyarakat dan ekosistem apabila ada penambahan dua unit pembangkit batu bara baru ke pembangkit listrik tenaga batubara Celukan Bawang.

Dalam permodelan tersebut disebutkan jika pembangkit batubara diizinkan untuk dipeluas dengan menambahkan dua unit berkapasitas 330 MW, polusi udara dari pembangkit batubara dapat merusak kesehatan masyarakat Bali, menyebabkan sekitar 190 kematian prematur setahun., kematian prematur tahunan bisa meningkat hingga hampir 300. Dengan usia operasi 30 tahun yang khas, pembangkit listrik dapat menyebabkan sekitar 19.000 kematian prematur.

Disebutkan juga bahaya bagi kesehatan masyarakat yang berasal dari emisi PM2.5 dan NO2 dengan risiko di Indonesia yang sangat tinggi karena kontrol polusi yang merupakan salah satu yang terlemah di Asia Timur – jauh lebih lemah daripada di Cina atau Jepang.

Ahli polusi udara Greenpeace Lauri Myllivirta mengatakan ekspansi PLTU Celukan Bawang tahap II, dapat membahayakan 200.000 jiwa dari paparan polusi udara yang diatas ambang batas aman, dan 30.000 jiwa berpotensi terkena paparan akumulasi merkuri pada level yang tidak aman.

“Emisi berbahaya ini juga dapat menjadi ancaman bagi populasi lumba-lumba dan ekosistem sekitar PLTU Celukan Bawang lainnya,” ujarnya

Salain itu, emisi dari pembangkit batubara juga berpotensi membahayakan lingkungan Taman Nasional Bali Barat, rumah bagi satwa langka dan dilindungi termasuk macan tutul Jawa, trenggiling dan jalak Bali yang statusnya sangat terancam.

Hindun Mulaika, Juru Kampanye Iklim dan Energi untuk Greenpeace Indonesia menyampaikan ekspansi yang diusulkan ini sangatlah tidak wajar, terutama karena didorong oleh keputusan Gubernur Bali tanpa penilaian yang memadai dari dampak merkuri yang dihasilkan dan polutan berbahaya lainnya.

“Tidak ada perhitungan jumlah emisi merkuri yang tertera dalam AMDAL proyek ekspansi tersebut,” ujarnya.

Sementara itu berdasarkan temuan di persidangan perwakilan tim kuasa hukum warga penggugat dan Greenpeace Indonesia, I Wayan Gendo Suardana juga menegaskan bahwa perluasan PLTU Celukan Bawang akan memperburuk kualitas lingkungan yang sudah tercemar oleh PLTU yang saat ini sudah ada, jadi dampaknya harus dihitung secara akumulatif.

Saksi ahli penggugat, Profesor Ery M. Egantara seorang pakar Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) menjelaskan bahwa perhitungan dampak juga perlu dilakukan dalam prakiraan waktu jangka panjang. Akumulasi polutan berbahaya tidak akan langsung terasa pada tahun- tahun pertama beroperasinya PLTU tersebut, tetapi kalau dihitung sampai 5-10 tahun ke depan, ancamannya bisa sangat berbeda.

Persidangan yang menghadirkan saksi ahli dari pihak penggugat pada Kamis (12/7) kemarin juga telah menekankan pentingnya pemodelan emisi dengan metodologi yang tepat. Namun sayangnya hal ini tidak kita lihat dalam AMDAL ekspansi PLTU Celukan Bawang.

“Kualitas AMDAL yang buruk akan mempersulit prakiraan dampak. Padahal, AMDAL menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan proyek tersebut layak dilanjutkan atau tidak”, tambah Gendo Suardana. (RLS/jt0)

Leave A Reply

Your email address will not be published.