Perjuangan Double Wayan Damai Peraih Medali Perunggu Law Bowl

0

DENPASAR/terbitdotco – Acara Suka Duka di Tana Bali memang selalu menampilkan sisi lain kehidupan masyarakat Bali. Suka Duja di Tana Bali ke 5 yang diadakan di Taman Baca Kesiman pada Sabtu (27/10) malam merupakan kolaborasi Balebengong dan Taman Baca Kesiman.

Tema “Perjuangan Double Kawan Difabel” ini menghadirkan Wayan Damai peraih medali perunggu Law Bowl di ajang Asian Paragames. Selain Wayan Damai, hadir pula Ketut Windri dan Ketut Masir yang merupakan perwakilan dari Persatuan Tunanetra Indonesia Provinsi Bali.

BACA JUGA : Menteri Susi Berbagi Cerita Inspiratif di UWRF 2018

Wayan Damai menceritakan perjuangannya sampai masuk ke ajang Asian Paragames tidaklah mudah. Ia sempat menjalani masa-masa sulit sebagai remaja difabel. Dilahirkan berbeda dari remaja lainnya membuat Wayan Damai harus menyesuaikan diri dan terus menggali potensi yang ada dalam dirinya.

“Sebelum menjadi atlit, saya melukis dan dijual untuk biaya hidup dan bersekolah. Sampai sekarang juga masih melukis,” ungkapnya, Sabtu (27/10).

Lukisannya yang cukup banyak diminati membuat semangat pria asal desa Keliki, Tegalalang ini bangkit. Ia sempat bersekolah di SLB Bangli agar dapat membaca dan menulis.

“Saya tidak bisa menulis nama, jadi kadang diejek saat menjual lukisan harus meminta tolong orang lain menuliskan nama saya,” kenangnya.

Saat mengikuti Asian Paragames, awal mulanya Wayan Damai merupakan atlit balap sepeda, basket sampai akhirnya bertanding dalam cabang Lawn Bowl.

Meski Indonesia baru pertama kalinya ikut dalam cabang Lawn Bowl. Wayan Damai dan kawan-kawan berhasil menyumbangkan medali untuk tuan rumah.

BACA JUGA : 180 Penulis, Seniman dan Aktivis Ikuti UWRF

Baginya lawan yang paling berat adalah Korea dan Jepang, hal ini menurutnya disebabkan karena di dua negara itu cabang Law Bowl sudah dilatih belasan tahun.

Selain menjadi atlit, keseharian Wayan Damai banyak berkecimpung di organisasi yang mewadahi para difabel. Organisasi yang diberi nama Cahaya Mutiara ini menjadi wadah para difabilitas untuk mengembangkan diri sehingga tetap bersemangat.

“Saya tidak ingin teman-teman difabel patah semangat seperti yang pernah saya alami dulu. Semua orang memiliki potensi dalam dirinya,” tegas pria yang sudah dianugrahi 2 putri ini. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.