Peringati Hari Anti Tambang, Komunitas Diskusi Banyuwangi Gelar Nonton Bareng Film Pesta Demokrasi Berlumur Batubara

Sebuah film tentang bagaimana bentang politik telah menjadi salah satu penyebab utama rusaknya bentang alam dan lingkungan hidup di Indonesia. Bagimana dengan pilgub Jawa Timur ?

0

BANYUWANGI/terbitdotco – Lingkar Diskusi Ekologi Banyuwangi (LDEB) menggelar acara nonton bareng dan diskusi “Pesta Demokrasi Berlumur Batubara” di Kafe Pinarak, Banyuwangi pada Selasa (29/5) malam. Diskusi dan Nonton bareng ini digelar dalam rangka memperingati hari anti tambang yang jatuh setiap tanggal 29 Mei.

Film yang dirilis Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) ini menceritakan bagaimana hubungan korporasi tambang batubara dengan pemilihan kepala daerah yang tahun ini digelar serentak .

Merah Johansyah, Koordinator Jatam dalam film yang berdurasi 44 menit ini memaparkan, ada hubungan antara korporasi tambang dengan pilkada. Korporasi tambang akan mempengaruhi kandidat kepala daerah untuk memuluskan kepentingannya. Hal ini bisa dilihat bagaimana izin-izin baru justru lahir pada momentum jelang pilkada. 170 buah izin baru muncul jelang pilkada serentak 27 Juni 2018.

“Tidak ada jaminan pilkada akan menghasilkan pemimpin yang berpihak kepada lingkungan dan keselamatan rakyat,” kata Merah sapaan akrabnya.

Menariknya, selain nonton bareng dalam acara ini digelar juga diskusi. Salah seorang peserta nobar dan diskusi, Rosdi Bahtiar Martadi menyampaikan fakta menarik tentang bagaimana isu lingkungan diabaikan oleh para kandidat Gubernur Jatim.

“Sehari setelah peringatan Hari Bumi, pada tanggal 23 April 2018 Walhi Jatim menggelar diskusi publik di Sidoarjo. Karena tujuan diskusi publik ini untuk mengeksplorasi apa visi-misi dan program cagub Jatim atas persoalan lingkungan yang ada, maka dua pasangan calon Gubernur Jatim diundang. Namun, sayangnya kedua cagub tersebut tak hadir. Hal ini bisa ditafsirkan bahwa isu lingkungan adalah hal yang sepele di mata cagub jatim,” Ujar Rosdi.

Zainal Arifin, warga kaki Gunung Tumpang Pitu yang hadir dalam acara nobar dan diskusi ini, pesimis. Pria yang akrab dipanggil Ari menyampaikan, Nyata terlihat bahwa pertambangan emas yang berada di Gunung Tumpang Pitu terlampau dekat dengan pemukiman warga, pemerintah tetap tak peduli dan memilih mengizinkan perusahaan untuk terus menambang di Tumpang Pitu.

“Ketika Bupati didesak untuk mencabut izinnya, Bupati beralasan takut dibawa ke arbitrase internasional. Ini bupati apa kok takut? Jika pemimpin sudah takut, ya mestinya dikembalikan saja mandatnya ke rakyat. DPRD juga sama, tidak ada yang berani nolak tambang emas Tumpang Pitu padahal tambang ini mengancam keselamatan warga. Dari sini jelas terlihat bagaimana keberpihakan pemimpin kita. Mereka lebih berpihak kepada perusahaan, bukan kepada lingkungan dan keselamatan warga,” papar Ari.

Nonbar ini juga diisi dengan pembacaan puisi, dan pertunjukan musik akustik dari komunitas Homebrandsex.

Selain di Banyuwangi, pemutaran Film Pesta Demokrasi Berlumur Batubara ini secara serentak digelar hampir di seluruh wilayah Nusantara yaitu Sumatera Utara, Palembang, Samarinda, Karawang, Makassar, Kendari, Madura, Tarakan, Palu, Magelang, Lampung, Balikpapan, Jember, Malang, Surabaya, dan Cirebon.

Leave A Reply

Your email address will not be published.