Perdana, Dokumenter The Woven Path : Perempuan Tana Humba Diputar di Bali

0

DENPASAR/terbitdotco – Setelah dirilis di Jakarta pada 10 Mei 2019 lalu, film dokumenter The Woven Path : Perempuan Tana Humba untuk pertama kalinya diputar di Bali.

Pemutaran dilakukan Tanakhir Films bekerja sama dengan Jatijagat Kampung Puisi pada Jumat (19/7). Pemutaran tersebut disertai dengan diskusi terbuka untuk umum dan tidak dipungut bayaran.

The Woven Path : Perempuan Tana Humba adalah dua film pendek dokumenter terbaru produksi Tanakhir Films, yang disutradarai oleh Lasja F. Susatyo dan diproduseri oleh Mandy Marahimin.

The Woven Path berdurasi 10 menit merupakan dokumenter puitis tentang dua puisi bertema IBU yang ditulis oleh dua penyair dari dua generasi berbeda, Diana Timoria dan Umbu Landu Paranggi.

Sementara Perempuan Tana Humba berdurasi 30 menit bercerita tentang tradisi dan budaya di Sumba dan dampaknya terhadap perempuan.

Film ini terbagi dalam tiga babak, yaitu Marapu, Belis, dan Perkawinan. Melalui babak Marapu, kita mengikuti rangkaian upacara yang dilakukan di Sumba mulai dari ritual perkawinan hingga ritual kematian.

“Melalui rangkaian ritual tersebut, penonton diharapkan dapat memahami betapa pentingnya tahapan-tahapan ritual tersebut bagi masyarakat Sumba,” Ungkap sutradara film The Woven Path : Perempuan Tana Humba, Lasja F. Susatyo.

Lasja F. Susatyo mnyampaikan, dalam babak Belis, kita akan mengikuti secara detail apa yang disebut belis, atau mas kawin dalam bahasa Sumba.

Sistem yang terjadi lebih dikenal sebagai sistem jual beli, dimana setelah pemberian belis pengantin perempuan menjadi hak dari keluarga pengantin laki-laki.

Melalui babak ini kita akan melihat bagaimana pengaruh belis terhadap posisi perempuan Sumba dalam keluarga dan masyarakat.

Babak Perkawinan merupakan babak yang menunjukkan bagaimana ritual perkawinan dijalankan di Sumba, dan apa dampaknya bagi peran perempuan dalam keluarga.

“Saya ingin mengangkat tema perempuan dalam adat tradisi di Sumba (timur) hari ini, terutama kaitannya dengan belis (mahar) dan perkawinan yang kerap masih sangat memberatkan. Perubahan dan perbaikan tak terelakkan, seiring dengan kemajuan zaman,” ujar Lasja F. Susatyo.

“Namun, perbaikan harus dilakukan dengan bijaksana karena tatanan satu berpengaruh terhadap tatanan kehidupan lainnya. Film ini bermaksud membagi pengalaman para ibu Sumba dan mengangkatnya dalam puisi mengenai perempuan, ibu, dan Ibu Pertiwi,” lanjut Lasja F. Susatyo.

Sementara itu, Mandy Marahimin sebagai produser berharap film ini bisa menunjukkan betapa indahnya Sumba, dan juga membuka diskusi tentang posisi perempuan di sana

“Saya selalu cinta dengan Tana Humba. Alamnya, tenunnya, masyarakatnya, dan budayanya. Jadi ketika Lasja mengajukan ide film ini, saya langsung menyetujuinya,” jelas Mandy Marahimin sebagai produser.

Film ini didukung oleh Nur Hidayat sebagai sinematografer, Wawan I. Wibowo sebagai editor, Thoersi Argeswara sebagai penata musik, Satrio Budiono sebagai penata suara, dan Olin Monteiro sebagai peneliti. Selain itu, film ini juga melibatkan Jefri Nichol dan Aurora Ribero sebagai pembaca puisi.

Film ini juga didukung oleh Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Film ini diharapkan dapat menggugah kesadaran dan memulai dialog mengenai isu peran perempuan dalam tradisi dan masyarakat.

Setelah di Bali dan Sumba, film The Woven Path : Perempuan Tana Humba akan diputar keliling ke sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas budaya dan film di wilayah lain di Indonesia. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.