Perbekel dan Camat Ngacir ke Bupati Saat Ditanya Sosialiasi PLTU Celukan Bawang

0

BULELENG/terbitdotco – Pertemuan antara perwakilan warga bersama aparatur desa di Aula Kantor Perbekel Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Buleleng berlangsung alot pada Senin (16/07) siang. Mereka membahas berbagai persoalan yang sedang dihadapi warga, terutamanya terkait dengan proses sosialiasi AMDAL pembangunan PLTU tahap dua yang tidak melibatkan masyarakat secara luas.

Salah satu perwakilan warga, Haji Muhajir mengungkapkan pertemuan ini dilakukan untuk meminta kejelasan tentang daftar hadir sosialisasi yang dilakukan pada tanggal 28 Agustus 2016 lalu. Hal ini terjadi karena sebelumnya dalam fakta persidangan kasus PLTU Celukan Bawang di PTUN Denpasar terungkap adanya daftar hadir sosialisasi yang hanya dihadiri oleh 21 warga.

“Kalau ada proyek, sesuaikan dengan prosedur. Undang masyarakat. Bukan sembunyi-sembunyi. Terlebih, pembangunan PLTU berbahan bakar batubara tahap kedua ini sangat besar. Persoalan PLTU Celukan Bawang tahap satu saja belum selesai. Ini menjadi kegelisahan masyarakat. Kalau proyek ini baik, nggak mungkin sampai pengadilan (PTUN) di Denpasar,” ujar Haji Muhajir.

Dalam persidangan sebelumnya, tepatnya pada Kamis lalu (28/06) juga terungkap M. Ashari selaku Perbekel desa Celukan Bawang mengakui bahwa undangan sosialisasi pada tanggal 28 Agustus 2016 hanya dilakukan secara lisan dan hanya kepala dusun Pungkukan yang diundang dengan alasan kepala dusun yang lain tidak masuk kantor.

“Kalau mau membangun sesuatu di Gerokgak, buat sesuai aturan. Kalau begitu sikap mereka (PLTU Celukan Bawang), kami menolak. Ini pelanggaran. Masyarakat di abaikan,” tegasnya di depan Kepala Desa Celukan Bawang, M. Ashari dan Camat Gerokgak, Ariadi Pribadi dalam rapat yang diinisiasi oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Celukan Bawang tersebut.

Hal tersebut pun juga dibenarkan oleh Saharudin selaku kepala dusun Pungkukan saat rapat. Katanya, Ia diminta secara lisan oleh M. Ashari untuk mengumpulkan warganya pada sosialisasi tanggal 28 Agustus 2016 lalu.

“Pada hari Sabtu saya diminta Perbekel (M. Ashari) untuk memberi tahu warga agar hari minggu esoknya dapat berkumpul. Undangan sosialiasi pun dilakukan secara lisan. Karena nggak datang, saya minta tanda tangan ke rumah-rumah warga,” ujarnya.

Pengakuan tersebut pun menjadi pergunjingan warga yang hadir. Bahkan, warga pun sempat menyindir pihak aparatur desa. “Undangan sunatan saja ada surat. Masak undangan sosialiasi nggak ada,” sebutnya. “Cari tanda tangan ke rumah warga? Itu sosialiasi atau cari sumbangan,” timpal warga lainnya.

Terlebih, mereka yang menandatangani surat sosialiasi untuk persyaratan AMDAL PLTU Celukan Bawang pun hanya berasal dari dua keluarga saja. Padahal, ada ribuan jumlah warga yang ada di wilayah Celukan Bawang tersebut. Total hanya ada 21 warga yang tandatangan, 4 lainnya, yakni ada Kepala Desa Celukan Bawang, Kadus Pungkukan termasuk juga Camat Gerokgak.

Hanya saja, dalam pertemuan tersebut, Ariadi Pribadi selaku Camat Gerokgak mengaku menandatangani hal tersebut sebagai bentuk administrasi saja. Bahkan juga tidak hadir dalam sosialisasi yang diklaim dalam persyaratan AMDAL yang kini sedang didugat warga di PTUN Denpasar tersebut.

“Saya tidak hadir dalam sosialiasi. Saya cuma menandatangani yang bersifat mengetahui saja. Kalau isi dari sosialiasi tersebut, saya tidak tahu,” ujarnya.

Pengakuan tersebut pun membuat heran warga yang hadir dalam pertemuan tersebut. Untuk itu, warga pun mendesak agar Kepala Desa, M. Ashari, Kadus Pungkukan, Saharudin dan 21 Warga lainnya untuk membuat surat pernyataan bahwa sosialiasi pada tanggal 28 Agustus 2016 tersebut tidak ada.

Namun Perbekel dan Kepala Dusun Pungkukan bersikeras tidak mau membuatnya dengan alasan harus berkoordinasi dengan Bupati terlebih dahulu. Seperti halnya yang disampaikan M. Ashari kepada warganya.

“Saya terikat sebagai saksi (saksi dari tergugat intervensi Celukan Bawang,red) di persidangan. Kalau saya tandatangan ini, berati saya mendorong diri dalam jurang. Saya tidak mau dan saya siap menanggung segala resikonya,” ujarnya dengan wajah sedikit kecut.

Meski begitu, warga pun tetap memberi tenggang waktu untuk M. Ashari termasuk juga Saharudin untuk berpikir ulang hingga Selasa (17/7) untuk menandatangani surat pernyataan bahwa sosialiasi yang dilakukan pada tanggal 28 Agustus 2016 tersebut tidak sah atau mengakui bahwa tidak ada sosialiasi saat itu. Termasuk juga 21 warga lainnya yang ikut serta membubuhkan tanda tangan.

Draf pernyataan bahwa tidak ada sosialiasi itu pun langsung dibuat dalam rapat tersebut dan langsung di print, untuk disebarkan ke 21 warga lainnya yang ikut tanda tangan sosialiasi pada 28 Agustus 2016 lalu tersebut.

Usai isi draf disepakati, rapat pun segera ditutup. Camat Gerokgak, Ariadi Pribadi dan Perbekel Celukan Bawang, M. Ashari pun langsung buru-buru ngacir dari aula desa. Menurut pengakuanya, pejabat di desa Celukan Bawang dan Gerokgak ini akan menemui bupati Buleleng.

Konon, mereka akan menyampaikan keluhan warga yang sudah ia catat dalam kertas putih yang ada di meja saat rapat tersebut. Selain membawa soal sosialisasi PLTU Celukan Bawang tahap dua yang dimasalahkan warga, juga terkait janji-janji pembangunan PLTU tahap satu, seperti tenaga kerja, mesin ramah lingkungan, air bersih, fasilitas kesehatan dan sebagainya yang nyatanya sampai sekarang bagi warga hanya isapan jempol belaka. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.