Pencegahan ASF Melalui Pelatihan Investigasi Wabah

0

NUSADUA/terbitdotco – Di Indonesia sejak 2013, FAO ECTAD Indonesia bersama dengan Direktorat Kesehatan Hewan dan Peternakan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian telah melakukan pelatihan investigasi wabah (Outbreak Investigation) bagi petugas kesehatan hewan. Tidak hanya petugas di tingkat pusat, tapi juga di tingkat daerah.

Kegiatan ini ditujukan untuk mencegah maupun mengendalikan ancaman wabah yang bisa terjadi kapan saja. Pelatihan difokuskan pada pendekatan simulasi dengan mengadopasi kejadian nyata di masa lalu dari berbagai negara dalam menghadapi wabah penyakit.

BACA JUGA : FAO Angkat Wabah ASF China dalam Pertemuan Federasi Veteriner se-Asia

Hingga tahun 2018, sebanyak 298 petugas kesehatan hewan yang sudah dilatih di 8 wilayah pusat investigasi penyakit, Kementan di Subang, Yogyakarta, Maros, Lampung, Bukittinggi, Banjarbaru, Denpasar dan Medan.

Salah satu kegiatan utama pelatihan investigasi wabah adalah meningkatkan kapasitas dokter hewan pusat dan daerah agar dapat secara efektif mendeteksi dan melaporkan wabah.

“Pelatihan investigasi wabah ini sangat penting. Karena saya perhatikan dalam beberapa tahun ini ketika menghadapi outbreak, laporan yang diberikan petugas selalu berbeda. Tidak ada standar. Memang laporan bisa bervariasi bergantung karakteristik kasus, lokasi dan sebagainya. Akan tetapi ada substansi-substansi yang harus tetap ada disitu. Pendataan hewan, kemudian keadaan lingkungan, asal hewan dan sebagainya. Ini penting diterapkan,” ujar Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertaian, Fadjar Sumping Tjatur Rasa.

Selain untuk mengendalikan penyakit, Fadjar menambahkan, investigasi wabah juga penting bagi para pengambil kebijakan dalam menentukan langkah selanjutnya. Sebab ketika suatu wiilayah dinyatakan terjadi wabah dan harus ditutup, dapat berimplikasi pada keadaan kahar (force majeure) yang berpengaruh pada banyak hal seperti asuransi, perubahan struktur pendanaan karena keadaan darurat.

“Karena itu kita sebagai petugas harus bisa menyajikan data-data dan informasi, serta bukti-bukti lapangan yang bisa diformulasikan untuk membuat kebijakan,” pungkasnya.

BACA JUGA : Bertemunya Tradisi dan Modernitas di Panggung Nawanatya

Wabah ASF pertama kali terjadi di Eropa dan Amerika pada awal tahun 1950-an dan berlangsung hingga tahun 1980-an. Namun pada tahun 2007, jenis virus ASF baru terjadi di Georgia, yang kemudian menyebar dan sangat memukul negara-negara tetangga di Eropa Timur.

Di Asia, ASF pertama kali terdeteksi di peternakan babi di wilayah Siberia Federasi Rusia pada Maret 2017. Di China, virus itu ditemukan di timur laut negara itu pada awal Agustus tahun ini. Sejak itu, lima kasus tambahan telah dilaporkan di daerah sejauh seribu kilometer.

Cina menghasilkan lebih dari setengah populasi babi di dunia, yaitu sekitar 400 juta ekor. Untuk menahan penyebarannya, pihak berwenang hingga saat ini telah memusnahkan sebanyak 40.000 babi. (jt2/rls)

Leave A Reply

Your email address will not be published.