NYALA: Sebuah Kisah Semangat Yang Tak Padam

0

DENPASAR/terbitdotco – Komunitas I Ni Timpal Kopi menggelar diskusi dan screening film berjudul NYALA : Nyanyian Yang Tak Lampus di Taman Baca Kesiman (TBK) Denpasar pada Selasa (7/8).

Film yang berdurasi 85 menit ini bercerita tentang Ruswanto dan Slamet AR yang selamat dari tragedi genosida tahun 1965. Ruswanto, pada masa sebelum peristiwa 1965 pernah berkecimpung di organisasi Pemuda Rakyat sekaligus tergabung di PGRI Non-Vaksentral sekarang dikenal sebagai orang tua yang rajin silahturahmi ke sesama keluarga penyintas 1965 di Banyuwangi, serta menjadi penasihat Gereja di Genteng, Banyuwangi.

BACA JUGA : Nobar Film Biak Berdarah di Surabaya Dibubarkan Aparat

Sementara itu Slamet AR yang sejak muda dikenal sebagai seorang seniman Banyuwangi pencipta tari-tarian, kini masih punya semangat tinggi melestarikan kesenian lokal, semangat itu berwujud kerja keras membangun sanggar seni bernama “Angklung Soren”.

Dliyaur, pembuat film ini, melalui karyanya ingin menyampaikan kepada penonton tentang kerja keras yang dilakukan Slamet dalam membangun sanggar seni yang bukan sekedar bangunan fisik semata melainkan melanjutkan apa yang pernah dia kerjakan sebelum 1965.

“Slamet dengan masa traumatiknya akibat tragedi 1965, namun masih bersemangat melestarikan kesenian yang ia percayai bisa membangun Banyuwangi,” ujarnya saat disksi.

Pemuda yang kuliah di Universitas Jember ini mengaku karya Film NYALA adalah sebuah projek tugas akhir, walaupun dikerjakan selama satu tahun namun ia belum merasa puas. Pegiat komunitas screening film Layar Kamisan Banyuwangi ini juga mengaku tertarik dengan isu ini karena melihat semangat Roswanto dan Slamet menjalani hidup pasca tragedi 1965.

“Subjek dalam film ini yaitu Pak Ruswanto dan Pak Slame adalah sosok yang memiliki semangat luar bisa, seperti tak pernah padam,”

BACA JUGA : Budi Pego Bersama Jaringan Aksi Solidaritas untuk Tumpang Pitu Menuntut ke Jakarta

Menariknya sebelum membuat film, Pria kelahiran Bangil ini bergaul terlebih dahulu dengen kedua subyek film yang ia kenal dari teman-temannya di ForBANYUWANGI yang saat itu sedang mengadvokasi warga dalam menolak keberadaan pertambangan emas di Gunung Tumpang Pitu.

“Kebetulan saja saat proses pembuatan film ini ada salah satu petani dan pedagang buah naga yang menolak keberadaan tambang emas sedang menghadapi kasus kriminalisasi dengan tuduhan menyebarkan paham komunisme,” ujarnya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.