Ngopi : Hoax adalah Kejahatan yang Mengikuti Peradaban

0
NGOPI : Ngobrol Pintar bersama Hari Puspita (Aji), Dr. Muhsin Labib (Dosen FIlsafat), AKBP. Gede Dartiyasa (Kasubdit 3 Intelkam Polda Bali). (Foto: Kholik Mawardi/terbitdotco)

DENPASAR/terbitdotco– “Ngopi” atau Ngobrol Pintar ini terselenggara berkat kerjasama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Bali, Terbitdotco dan Emper Library. Diskusi santai yang bertema “Hoax dan Ancama Disintegrasi” ini menghadirkan tiga pembicara dari tiga kalangan berbeda yaitu Akademisi, Jurnalis dan Kepolisian pada Senin (2/4).

Dr. Muhsin Labib, MA, mengungkapkan diera saat ini berita bohong (fake news,hoax) menjadi sebuah kegiatan yang disengaja dengan tujuan mencari keuntungan atau kekuasaan.

Menariknya menurut dosen Filsafat di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini kebiasaan membuat pernyataan atau berita bohong ini sudah ada sejak manusia dilahirkan sebagai suatu cara alami untuk melindungi diri saat terdesak.

“Maka dari itu penting masyarakat memiliki filter dalam menangkal berita hoax, tersebut. Apalagi hoax yang menyeret atau melempar isu keyakinan (Agama). Tentu itu akan mampu juga akhirnya mengancam disintegrasi,” Ujar Dr. Muhsin Labib saat diskusi yang dilaksanakan di Kubu Kopi.

Hari Puspita, Ketua Aliansi Jurnalistik Independen (AJI),menerangkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan hoax antara lain: pertama kejahatan itu mengikuti peradaban, selanjutnya masih lemahnya dan masih lambatnya perangkat negara dalam mengantisipasi hal tersebut.

“Tentu bisa dikatakan kejahatan tersebut mengikuti peradaban yang berkembang. Ya, salah satunya Hoax tersebut. Perangkat negara dalam mengantisipasi hoax juga terkesan masih lambat,” ujar Pipit, sapaan akrabnya.

Semakin maraknya berita bohong yang hadir ditengah-tengah masyarakat telah diantisipasi oleh pihak kepolisian dalam bentuk sosialisasi kepada masyarakat tentang cara mengetahui ciri-ciri dari berita bohong (fake news,hoax) melalui program 4C yang terdiri dari cermati isi berita, cek pembuatnya, cek legalitas media dan cari pembandingnya.

“Inilah fungsi dari teman-teman jurnalis, yang akan menjadi pembanding untuk berita-berita bohong,” ungkap AKBP. Gede Dartiyasa selaku Kasubdit 3 Intelkam Polda Bali.

Selain itu, pihak kepolisian juga melakukan Cyber Patrol. Dalam Cyber Patrol dilakukan pemberian tanda stempel pada berita hoax, selanjutnya berita yang sudah distempel hoax diteruskan ke sosial media. (jt3)

Leave A Reply

Your email address will not be published.