Motif Pertambangan Emas Tumpang Pitu dan Reklamasi Teluk Benoa Miliki Kesamaan

0

DENPASAR/terbitdotco – Diskusi bedah buku Menambang Emas di Tanah Bencana karya Ika Ningtyas yang digelar di Taman Baca Kesiman, Denpasar pada Minggu (7/4) berjalan menarik.

Bali merupakan kota ke-4 yang membuat acara bedah buku tentang lingkungan tersebut, setelah sebelumnya di Jakarta, Surabaya dan Malang.

Sekadar diketahui, Ika Ningtyas adalah seorang jurnalis di salah satu media besar di Indonesia.

Buku yang ditulis Perempuan asal Banyuwangi tersebut merupakan hasil liputan mendalam dalam rentang selama 10 tahun.

Dalam bukunya, Ika mencoba memberikan gambaran atas suatu fenomena sosial yang tampak anomali, di mana wilayah di sekitar eksplorasi sumber daya alam justru mengalami pemiskinan.

Dengan gaya junalisme prosa, Ika terjun langsung di pesisir selatan Banyuwangi menginvestigasi apa dan bagaimana dampak sosial dan ekologis serta konflik-konflik yang timbul dari eksploitasi sumber daya alam di sana.

la juga menyingkap bagaimana sumberdaya alam begitu mudahnya dijarah untuk kepentingan privat dengan menggunakan kendali struktural lembaga publik.

Diskusi pun dipantik oleh Ika Ningtyas selaku penulisnya langsung dengan ditemani Wayan Gendo Suardana dari Dewan Walhi Nasional dan Yoyo Raharyo yang juga seorang jurnalis di Bali dan dihantarkan oleh Reberto Hutabarat.

Sejumlah mahasiswa, aktivis lingkungan, jurnalis dan beragam komunitas di Bali pun mengikuti jalanan diskusi tersebut.

“Dalam konflik besar yang terjadi di Tumpang Pitu, banyak peneliti dari berbagai kalangan yang datang. Namun saya melihat ada narasi tidak utuh disitu,” ujar Ika.

Salah satunya juga yang berkembang di media utama di Indonesia. “Hal itu yang membuat saya untuk mengabung-ngabungkan kembali. Dan ternyata saya juga memiliki banyak tulisan selama sepuluh tahun di Tempo,” ungkapnya.

Kasus yang terjadi di Tumpang Pitu menjadi relevan. Yang terjadi di Jawa saat ini, menanggung beban 65 persen penduduk, dengan kebutuhan ruang, air dan udara bersih yang cukup besar, ternyata hutan lindungnya hanya 3 persen.

“Tiga persen itu pun terus berkurang. Salah satunya ternyata dipakai oleh industri tambang yang terjadi di Banyuwangi. Ini akan mempercepat pemanasan global terjadi,” ujarnya.

Terkait dengan buku, Yoyo Raharyo yang juga seorang jurnalis menikmati cara penulisan dari Ika sendiri.

“Dalam buku ini, ada banyak penguatan data. Membacanya tidak terlalu melelahkan. Buku ini dapat menjadi bantuan untuk memandu yang terjadi di Tumpang Pitu,” jelasnya.

Komentar menarik juga disampaikan oleh Gendo Suardana yang memandang Ika dalam bukunya berhasil menyampaikan pesan fungsi ekologis, sosial dan budaya dari Tumpang Pitu.

“Ini gambaran yang tepat. Di buku ini juga memperlihatkan bahwa fungsi lindung dari Tumpang Pitu ini dapat dipertanggungjawabkan secara sejarah dan ekologi,” jelasnya.

Buku tersebut juga memperlihatkan modus bahwa investasi dan pola kekuasaan untuk melanggengkan proyek-proyek rakus seperti tambang maupun reklamasi.

“Buku ini memberikan gambaran pola yang dilakukan itu hampir sama. Pola yang digambarkan di buku Ika ini mirip sekali dengan yang dilakukan di Teluk Benoa,” ujarnya.

Misalkan, persoalan perubahan status kawasan yang dilakukan secara cepat, sebagaimana halnya dengan yang terjadi di Teluk Benoa.
Dimana sebelumnya Teluk Benoa merupakan kawasan konservasi di ubah menjadi kawasan budidaya dan dapat di reklamasi.

“Ini menunjukan bagaimana curangnya praktek tambang emas di Tumpang Pitu dan sama halnya dengan Teluk Benoa. Ini menarik. Buku ini dapat memberikan perspektif baru di masyarakat,” tegasnya.

Diakhir acara, juga menampilkan akustik dari musisi Nanda Monica, jebolan The Voice Kids Indonesia, Dede dari Nobeleaf, Wibhi dari Mahasiswa IHDN Denpasar dan warga Banyuwangi. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.