Konsisten Tolak Tambang Emas, Warga Tumpang Pitu Kembali Gelar Aksi Selasa Kliwon

0

BANYUWANGI/terbitdotco – “Bupati! Bupati! Kami datang lagi. Bupati! Bupati! Kami datang lagi. Bupati! Bupati! Kami datang lagi,” begitu bunyi yel-yel yang diteriakkan massa yang menamakan diri Aksi Selasa Kliwon (ASK) #2.

Aksi yang merupakan warga kaki Gunung Tumpang Pitu berkolaborasi dengan beberapa komunitas, seperti ForBanyuwangi, Aliansi Pelajar Banyuwangi (APB), dan beberapa mahasiswa beerkumpul di depan Kantor Bupati Banyuwangi pada Selasa (19/2) menyerukan pencabutan Izin Usaha Pertambangan yang dikantongi oleh 2 anak perusahaan Merdeka Coopergold, yakni Bumi Suksesindo (BSI) dan Damai Suksesindo (DSI).

“Keberadaan tambang emas di Tumpang Pitu hanya akan mempercepat datangnya kiamat bagi warga Kecamatan Pesanggaran,” ujar Nur Aini dalam orasinya.

Perempuan asal Desa Sumberagung, Kec. Pesanggaran, Banyuwangi itu juga menjelaskan, kehadirannya di depan Kantor Bupati Banyuwangi tersebut untuk menunjukkan bahwa tuntutannya tidak berubah, yakni tambang emas harus hengkang dari Tumpang Pitu.

Hal senada disampaikan oleh Koordinator ASK #2, Defit Ismail, aksi Selasa Kliwon ini sudah kedua kalinya. Aksi kedua ini untuk menunjukkan bahwa agenda kami bersama warga itu tetap, yaitu tutup tambang emas Tumpang Pitu, dan cabut IUP BSI serta IUP DSI.

“Tidak ada negosiasi atas hal ini. Kami tak mau CSR (Corporate Social Responbility, red.). Tutup saja tambang itu! kami tak mau golden share,” tegas Defit.

Defit meyakini, kerusakan di masa mendatang yang diakibatkan oleh tambang takkan bisa diganti oleh CSR ataupun golden share.

“CSR seringnya cuma jadi alat penyederhanaan masalah bagi korporasi. Korporasi hanya memandang kerusakan yang ada bisa diganti dengan uang. Padahal jika kita bicara kerusakan, maka tak hanya kerusakan material yang akan ditanggung. Kerusakan non-material juga akan ditanggung warga,” lanjutnya.

Lebih lanjut Defit menjelaskan pertambangan emas Tumpang Pitu menimbulkan kerusakan non-material, contohnya adalah rusaknya hubungan sosial antar-warga.

“Keberadaan tambang telah membuat warga saling mencurigai. Situasi semacam itu berpotensi memicu konflik horisontal antar-warga, dulunya tak ada, tetapi kini ada,” jelasnya.

Sebagai sebuah aksi rutin yang diinisiasi warga, seruan utama ASK ada 2, yakni pencabutan IUP BSI dan DSI, dan pembebasan Budi Pego.

Warga sudah berkali-kali melakukan aksi penolakan tambang emas di Tumpang Pitu karena meyakini tambang emas akan merusak lingkungan tempat mereka tinggal. (*/rls)

Leave A Reply

Your email address will not be published.