Keren!!! Inilah Pengakuan Ketua Waria dan Gay Singaraja Tentang HIV/Aids

0

Mami Sisca Sena D. Namanya tentu sudah fenomenal dikalangan para Waria (wanita pria) dan Gay di Bali dan bahkan juga di Indonesia. Ketua Waria dan Gay Singaraja (Wargas) ini begitu hits dengan beragam acara dan karyanya bersama 195 anggotanya.

Antara lain, membuat Miss Queen Waria hingga gerak jalan dengan menggunakan pakaian SMA seksi pada peringatan HUT ke-71 Kemerdekaan RI di Singaraja. Udah kebayang kan bagaimana serunya acara tersebut.

But, Don’t Judge a Book by Its Cover. Bagi yang belum tahu, Mami Sisca ini ternyata merupakan konselor HIV/Aids di Buleleng lho. Kepedulian terhadap dunia kesehatan patut diancungi jempol. Dua jempol juga boleh.

Untuk itu, terbit.co sengaja mendatangi rumahnya yang berada di Singaraja. Kami berdiskusi cukup panjang soal HIV/Aids dari penyebab hingga pencegahan nya.

Berhubung 1 Desember juga merupakan Hari Aids sedunia, terbit.co  meminta Mami Sisca untuk melihat HIV/Aids ini dari kaca matanya. Cekisedoot…

Apa yang ada di kepala mami mendengar hari Aids sedunia?

Hari Aids sedunia itu seperti cermin, buat kita untuk sadar akan kesehatan. Jadi, setiap tahun kita selalu merayakan itu, setiap tahun kita selalu mengingatkan orang bahwa ada Aids lho di dunia ini, ada Aids lho di masing-masing wilayah.

Akar persoalannya di mana sih Mi?

HIV/Aids itu persoalannya sederhana banget. Hanya karena kedengarannya mengerikan dan diskriminasinya tinggi sekali untuk orang yang terinfeksi.

Masyarakat belum bisa membuka pikirannya tentang HIV/Aids. Beda banget dengan penyakit-penyakit lainnya, seperti diabetes, hepatitis dan lainnya.

Orang mendengarnya biasa saja (diabetes, hepatitis dll). Tapi kalau sudah HIV, kadang-kadang orang ngeri duluan. Terus konfidensialitas-nya mereka ingin benar-benar terjamin.

Satu hal lagi, kalau orang sudah terinfeksi HIV, mereka sering merasa hidupnya seolah tak berguna lagi. Dan yang paling mengerikan, mereka akan mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Lalu apa yang telah mami Sisca upayakan untuk mereka yang sudah terkena HIV/Aids ini?

Kami sudah mencanangkan tahun 2020, bahwa HIV ini semakin diterima baik di wilayah mana pun. Entah di desa, perkotaan dan pedalaman.

Tapi setelah kami amati beberapa survey dari beberapa kasus penderita HIV yang meninggal dalam suatu desa, atau penduduknya sudah hedon, sudah benar-benar orang yang berpendidikan lah ibaratnya, masih saja mereka ngeri dengan HIV.

Masih saja mereka tidak berani menyentuhnya (jenazah). Padahal kalau mereka tau, apa yang sudah kami sosialisasi kan ke masyarakat, empat jam setelah penderita itu meninggal, kita boleh menyentuhnya.

Gimana nggak sedih sih, kalau salah satu keluarga meninggal, terus keluarganya tak boleh menyentuh jasadnya. Ibaratnya itu kan, kalau di Hindu, ada orang yang sudah menjadi jasad, kita harus hargai dan hormati.

Bukannya mami itu pesimis dengan apa yang mami lakukan, tapi melihat hal tersebut, mami rasa tahun 2020 ini kayaknya belum bisa. Mungkin 10 tahun lagi kali ya.. hehehe

Kita ngobrol soal Singaraja nih Mi, tempat kelahiran Mami. Gimana sekarang kondisi nya?

Per September 2017 kemarin, Penderita HIV/Aids sudah mencapai di angka 2600. Karena di setiap kisaran sebulan, kami dengan dinas kesehatan menemukan  15-20 kasus.

Tapi sudah menurun lho. Dulu tahun 2016 malah ada 25-30 kasus per bulan. Makanya Buleleng sekarang menempati nomor 3 di Bali. Dari kemarin kita nomor dua setelah Badung.

Apa yang menyebabkan Buleleng masih berada di tiga besar?

Karena masyarakatnya masih urban. Mereka masih mobile nya tinggi. Satu contoh misalnya, masyarakat Buleleng yang mencari kerja atau peluang kerja ke Denpasar atau di daerah tertentu, mereka di sana melakukan perilaku seksual yang berisiko.

Mereka gonta-ganti pasangan. Di hari pertama mereka merasa aman, nggak ada gejala gatal-gatal seperti yang dibilang sama orang-orang. Padahal itu belum reaksinya.

Namun setelah dua tahun, tiga tahun, mereka pulang kampung ke Singaraja. Setelah di sini, baru mereka ngedrop. Terus dibawa ke rumah sakit umum dan ternyata positif. Ya masuk data penderita di sini jadinya. Itu yang membuat tinggi angkanya.

Rata-rata para penderita ini di usia berapa?

Rata-rata di usia 19 sampai 45 tahun. Usia produktif lah ya. Yang paling banyak itu di usia 30-45 itu. Kalau ibu rumah tangga, di data ada 600 ibu rumah tangga yang terinfeksi di Buleleng.

Ada program agar angka nya bisa terus menurun?

Sekarang kami punya program Prevention of mother to child transmission. Jadi pencegahan untuk  ibu hamil ke bayi. Sekarang program itu sudah kami galakan di Buleleng.

Setiap ibu hamil, harus memeriksakan diri. Itu wajib. Andai kata ditemukan ibu yang terinfeksi di usia kandungan 6 bulan, akan diberikan antisipasi dengan cara berikan obat. Anaknya bisa tidak kena.

Selain itu, dari kelompok kami juga sering bagi-bagi kondom pada masyarakat umum. Dulu kami bagikan, tapi sekarang mereka yang menghubungi mami dan mengambilnya sendiri.

Dalam sebulan itu biasanya habis terbagi 3 box yang masing-masing box isinya ada 114 kondom. Ada juga salah satu perusahaan di Buleleng ini yang setiap bulan minta 1 box kondom gratis. Mereka minta karena ada ibu-ibu yang sedang melakukan program KB. Daripada beli katanya. Hehehe

Untuk dananya, kami kerja sama dengan Pemerintah Buleleng. Mereka yang ngasik gratis. Nah, pernah pada tahun 2016 kami krisis kondom. Alasannya di pusat saat itu ada masalah. Dan untungnya kami punya strategi.

Ada kantor KB, saya datangin kesana. Dan ternyata dikasik dua box. Cuma ya beda rasa. Banyak orang-orang yang sering minta ke kami mengeluh. Hehehe

Memang kualitas kondom dari pemerintah lebih baik dibanding punya kantor KB. Tapi ada juga yang ketagihan, karena kondom dari kantor KB ada yang rasa strawberry. Kalau dari pemerintah, nggak ada rasa-rasanya.  Hehehe

Artinya persoalan sex bebas ini tinggi ya?

Tinggi banget. Dimana-mana tinggi banget. Mami pernah keliling ke beberapa kabupaten di Bali, semuanya sama. Karena itu manusiawi kan.

Pertanyaan agak berbeda nih mi. Menurut mami, alasan ibu hamil terinfeksi itu apa?

Aduh.. ini bahaya. Hehehe. Jawabnya harus hati-hati ini. Ehm.. Kemungkinan karena suami yang gonta-ganti pasangan, suami yang berisiko. Tapi perilaku suami atau pun juga istri, dulu pernah berisiko.

Kan perjalanan virus itu dari nol sampai 10 tahun. Nah kemungkinan besar virus nya aktif ketika sudah menikah. Mungkin juga kan dapat dari mantannya dulu.

Ia kan tak memeriksakan diri. Makanya mengapa sekarang mami ingin di Buleleng ini, setiap pasangan yang akan menikah, cek darah. Dan itu susah sekali diwujudkan.

Karena bisa jadi hambatan. Kasihan kan, yang sudah cinta mati, eh ternyata pasangannya terkena virus. Benar-benar susah dah.

Punya kasus yang seperti itu?

Mami pernah punya kasus yang hampir seperti itu. Malah mereka saling tuding. Yang laki nggak kuat menerima perempuannya yang positif. Lalu si laki-laki ini mengumbar kemana-mana. Bayangkan itu.

Disebarluaskan bahwa istrinya itu terinfeksi. Bahkan sampai orang tuanya dihasut untuk mengusir istrinya. Miris sekali. Saya sedih lho perempuan dibegituin. Sampai dia (perempuan itu) menangis di pangkuan saya.

Apa yang sejatinya mami inginkan?

Jadi kami ingin mengubah paradigma atau statement seseorang bahwa Aids itu bukan hal yang mengerikan lagi. Apalagi di zaman modern ini, segala sesuatu bisa di tangani.

Kami di sini sudah sering memberikan motivasi kepada yang sudah terinfeksi dan yang belum terinfeksi. Kami berikan mereka pemahaman untuk mengubah perilakunya, dari perilaku bersyukur ke lebih aware dengan kesehatannya. (jt1/jt4)

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.