INOVASI RASA! Dari Jaja Laklak Rasa Duren Hingga Ubi Pun Tersedia

0

SINGARAJA/terbitdotco – Bagi warga Bali, mungkin sudah sering mendengar dan mencicipi jajanan bernama jaja laklak. Biasanya, jajanan khas Pulau Dewata ini banyak ditemui di pasar-pasar tradisional. Namun, bagaimana bila jajanan ini di olah dengan beraneka rasa?

Sebuah suguhan inovasi baru di bidang kuliner tradisonal ini dilakukan oleh I Gede Rena Purdiasa. Jaja laklak miliknya memang dikenal unik, karena diolah dengan beragam jenis buah-buahan, seperti duren, buah naga dan buah segar lainnya. Bahkan, juga ada di umbi-umbian, seperti ubi bit.

Saat ditemui terbit.co di warung Djadja Laklak miliknya yang berada di perbatasan antara Tabanan dengan Singaraja ini, pria kelahiran Pancasari, 16 Maret 1986 silam ini bercerita tentang awal mula Ia mulai menggeluti bisnis jajanan tradisional asli Bali ini.

Katanya, sebelum memantapkan diri di bidang jaja laklak, Rena sempat menjual gorengan di wilayah Pancasari, Buleleng. Namun, karena banyak saingan, perkembangan bisnisnya pun terbilang kurang berkembang.

Nah, dari sana Ia mulai berkreatifitas. Laki-laki yang sudah dikaruniai dua orang anak ini kembali mengingat bahwa keluarganya memang dari dulu penikmat segala jenis jajanan khas Bali.

“Saya coba deh buat laklak. Awalnya saya buat yang original saja dulu dan saya minta keluarga untuk mencicipinya,” ujarnya.

Ternyata hasilnya lumayan enak. Dari sana, Rena kemudian beralih ke jajanan bali jenis laklak ini. “Lalu datang inspirasi untuk mengolahnya dengan buah dan kemudian saya kembangkan,” ungkapnya.

Pertama kali buat laklak dari buah apa? “Yang pertama, saya coba durian. Ternyata peminatnya banyak baik dari desa maupun luar Desa. Kemudian saya coba buah yang lain, seperti buah naga, nangka hingga ubi bit. Sampai sekarang sudah ada 8 rasa saya kembangkan,”jawabnya.

TRADISIONAL : Cara pembuatan laklak menggunakan alat tradisional (foto: terbitdotco)

Proses pembuatannya juga tak jauh berbeda dengan pembuatan jaja laklak pada biasanya. Yakni, dengan menggunakan cetakan berupa penggorengan dari tanah liat dan pemanasnya dari kayu bakar. Sajiannya pun dipadukan dengan parutan kelapa dan gua merah.

Rena juga tak menampik, dari berberapa kali percobaan mengalami banyak kegagalan. Salah satunya di buah strawberry. Katanya, Laklak buatan yang diolah dengan strawberry tersebut tidak mau mengembang dan rasanya juga kecut.

“Iya, memang tidak semua buah bisa dijadikan laklak. Atau mungkin juga karena saya belum dapat caranya yang pas. Sekarang ini saya lagi mencoba buah pisang. Semoga hasilnya baik,” terangnya.

Semangat juang Rena memang patut diancungi jempol. Kepada terbit.co, Rena mengaku meski baru 1,5 tahun bergelut di bidang kuliner jaja laklak, sudah banyak memiliki penggemar olahannya tersebut.

Warung Djadja Laklak miliknya pun juga di tata menarik, seperti dihiasi dengan sepeda jaman dulu. “Syukur pelanggannya cukup banyak. Dari Singaraja maupun Denpasar lumayan,” tuturnya.

Per porsinya, Rena hanya membandrol harga Rp 5000 saja. Selain harganya yang relatif terjangkau, pihaknya juga menawarkan pelayanan yang ramah kepada para pembelinya. Makanan ini pun, paling nikmat dipadukan dengan secangkir kopi.

Meski kini sudah terbilang cukup ramai pembeli, Rena memiliki harapan besar bagi para generasi muda, terutama yang ada di desa.

“Saya ingin anak muda di desa, untuk tetap semangat membangun ide kreatif, karena sekarang saya lihat banyak yang hanya bekerja di suatu perusahaan orang lain.  Mengapa tidak buat usaha sendiri?,” harapnya. (jt1)

Leave A Reply

Your email address will not be published.