Hotman Paris dan LBH Bali Adu Mulut, Sidang PLTU Celukan Bawang Kembali Gaduh

Sejumlah fakta kembali terungkap dalam lanjutan persidangan PLTU Celukan Bawang tahap dua. Namun, pihak penggugat menyebut ada banyak kejanggalan yang diungkapkan saksi dari pihak terguggat.

0

DENPASAR/terbitdotco – Pengacara dari pihak PT. PLTU Celukan Bawang, Hotman Paris Hutapea dan pihak Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali, kuasa hukum dari warga dalam kasus gugatan pembangunan PLTU tahap Dua Celukan Bawang kembali terlibat adu mulut. Lagi-lagi, Hakim Ketua yang memimpin sidang lanjutan di PTUN Denpasar, Kamis (5/7) tersebut, berulang kali mengetuk palu peringatan.

Sidang lanjutan gugatan warga terhadap tergugat Gubernur Bali menghadirkan 5 saksi warga dari pihak Tergugat II Intervensi yaitu pihak PT. PLTU Celukan Bawang. Yakni, Filhan seorang Wiraswasta, Achmad Alwi sebagai Nelayan, Jamaluddin dari Sekretaris Kelompok Nelayan Ketapang Sondo, Syukran Effendi warga yang berprofesi sebagai sekuriti di PLTU dan terakhir Amir Mahmud, yang bekerja sebagai buruh harian lepas.

Dalam sidang yang dipimpin A.K Setiyono, S.H.,MH, para saksi mengaku telah mendapat sosialisasi dan bahkan kelompok nelayan Ketapang Sondoh telah menerima ganti rugi sebesar 900 juta dari perusahaan atas pembangunan jetty di pantai tempat mereka berlabuh.

Pemindahan Kuburan serta Masjid dan Madrasah dari lokasi yang menjadi tempat PLTU Tahap Pertama juga dilakukan dengan adanya sosialisasi dan persetujuan warga. Namun ini terjadi pada rencana pembangunan PLTU Tahap Pertama pada kurun waktu 2006-2010.

Dewa Adyana, selaku Kuasa Hukum warga dari YLBHI LBH Bali menyebut hal tersebut sebagai suatu kejanggalan. Sebab, dalam kasus ini yang menjadi gugatan warga adalah izin lingkungan rencana pembangunan PLTU Tahap Dua, bukan PLTU Tahap satu yang sudah dibangun.

“Pihak tergugat mencoba mengaburkan ini dengan menganggap sosialisasi PLTU Tahap Satu kepada warga itu sama saja dengan sosialisasi PLTU Tahap Dua. Padahal objeknya berbeda dan tempatnya juga berbeda. Sayang sekali pengacara senior seperti Hotman Paris tidak memahami ini,” tandas Dewa.

Hotman Paris juga sempat menuding LBH merekayasa saksi didepan persidangan. Hal tersebut dibantah keras oleh perwakilan pihak kuasa hukum warga.

“Tidak ada itu (rekayasa). Jangan asal nuding, buktikan dong,” ujar Adi Sumiarta, S.H,M.Kn dengan nada keras.

Persidangan terus memanas selepas siang, dan bahkan Hotman Paris berkali-kali menuding YLBHI LBH Bali telah membujuk masyarakat dan membawa saksi palsu tanpa disertai bukti. Adu mulut antara kuasa hukum dari pihak penggugat dan tergugat pun tak dapat dihindarkan.

Hakim beberapa kali memberikan peringatan kepada pihak tergugat.

“Saudara tergugat dan penggugat jangan menanggapi secara berlebihan. Kalau membuat gaduh lagi, saya keluarkan,” tegas Hakim Ketua A.K Setiyono, SH,MH saat persidangan.

Sidang lanjutan antara warga terdampak Celukan Bawang melawan Gubernur Bali dan PLTU yang diwakili Hotman Paris akan dilanjutkan pada Kamis 12 Juli 2018 mendatang, dengan agenda menghadirkan saksi ahli dari pihak penggugat. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.