Digarap Warga Bertahun-tahun, Diklaim Milik Perusahaan

0

Warga Blokade Akses Jalan Dusun Selasih

Warga dusun Selasih, Desa Puhu, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar dikejutkan oleh masuknya eskavator ke dusun Selasih pada Selasa (19/11) malam. Mengetahui hal tersebut, puluhan warga langsung melakukan blokade akses jalan yang akan dilalui oleh eskavator milik PT. Ubud Resort Duta Development (URDD). Warga bahkan sampai menginap untuk menjaga blokade jalan yang telah dibuat, namun akhirnya blokade warga dibongkar paksa oleh pihak kepolisian Polres Gianyar dan Polsek Payangan.

Blokade yang dibuat oleh warga

“Ini namanya sudah mengganggu fasilitas umum, kalau ada yang tidak puas silahkan datang ke Polres Gianyar,” ungkap Kasatreskrim Polres Gianyar AKP. Deni Septiawan.

Warga tidak dapat berbuat banyak ketika pihak kepolisian membongkar blokade yang dibuat. Mereka hanya menonton dan duduk-duduk tanpa melakukan perlawanan.

“Dengan adanya hal ini, bisa dilihat kepentingan untuk berpihak sama investor. Saya sangat menyayangkan (sikap kepolisian,red). Polisi bukan pengayom masyarakat,” ungkap Made Sudiantara sebagai salah satu perwakilan Serikat Petani Selasih.

Pihak kepolisian membongkar blokade yang dibuat warga

Warga Menunggu Kejelasan dari PT. URDD

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari warga, PT. URDD hendak mengeksekusi lahan seluas 144 hektar. Padahal, selama 30 tahun lebih warga telah mengelola lahan tersebut,bahkan telah menjadi sumber utama pendapatan warga Selasih.

Salah satu perwakilan Serikat Petani Selasih (SPS) I Made Sudiantara menjelaskan, keresahan warga sebenarnya sudah sejak lama terjadi sejak adanya pembabatan pohon pisang yang tumbuh pada lahan seluas 30 hektar.

Papan nama yang dipasang PT. Ubud Resort Duta Development

Sampai hari ini, warga menyatakan tidak ada kejelasan apa-apa dari pihak PT. URDD yang mengklaim lahan di dusun Selasih sebagai milik mereka. Surat kuasa dari pihak perusahaan pun tidak pernah diketahui warga.

“Yang ada hanya informasi-informasi dari petugas keamanan sepotong-potong. Warga merasa resah sudah sejak lama,” ungkap Made Sudiantara.

Sudiantara menambahkan tidak ada kejelasan tentang bagaimana nasib warga yang telah mengelola tanah ini sejak 30 tahun lebih.

“Belum ada kejelasan, belum pernah ada kesepakatan. Bagaimana masalah pembebasan tanah, dasar apa yang mereka punya, seperti surat kuasa pun tidak bisa ditunjukkan,” tutup Made Sudiantara.

Leave A Reply

Your email address will not be published.