ASIMETRIS: Mengingatkan Tentang Pentingnya Air

0
DISKUSI: Sunandiantoro dalam Diskusi dan Nonton Bareng Film ASIMETRIS di Universitas 17 Agustus pada Kamis (5/4). (Foto: Istimewa/terbitdotco)

BANYUWANGI/terbitdotco – Regulasi pengelolaan ruang yang meminggirkan aspek keselamatan warga dan sensitifitas setiap pulau jadi pemicu mengapa ekologi Indonesia jadi timpang. Hal tersebut disampaikan anggota Komunitas Pecinta Alam Pemerhati lingkungan (Kappala) Indonesia Rosdi Bahtiar Martadi pada acara Diskusi dan Nonton Bareng Film Asimetris, Kamis (5/4).

Acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi (HMJ Biologi Untag) tersebut dihadiri pelbagai elemen mahasiswa dan masyarakat, seperti pemerhati capung, praktisi daur-ulang sampah, dan pelaku ekowisata Banyuwangi.

“Film karya Dhandy Laksono ini secara substantif mengingatkan kita tentang bahaya salah kelola ruang. Lokasinya pengambilan gambarnya memang banyak di Kalimantan, namun pola kekeliruan mengelola ruang ini bisa terjadi dimana saja, termasuk Banyuwangi,” Ujar Rosdi.

Menurutnya, jika pesan dalam film tersebut ditarik dalam situasi terkini Banyuwangi, maka kekeliruan pengelolaan ruang sedang riil terjadi.

“Contohnya, Tumpang Pitu. Hutan lindung yang mestinya dikonservasi justru dialihfungsi demi tambang,” imbuhnya.

Selain aspek keselamatan warga, gangguan ketersediaan air juga disoroti dalam acara yang berdurasi lebih kurang 2,5 jam itu. Pengurus Karang Taruna Kanjeng DipaYodha, Sunandiantoro berpendapat, film Asimetris mengingatkan banyak pihak tentang pentingnya air.

Menurut Sunandiantoro, jika dalam film tersebut sawit jadi pemicu problem air, maka di Banyuwangi sumber pemicu krisis air adalah pertambangan dan pertumbuhan hotel-hotel besar yang mulai tumbuh di Banyuwangi.

“Hotel-hotel ini menggunakan air bawah tanah. Tinggal tunggu waktu, cepat atau lambat ini akan membuat Banyuwangi krisis air,” ujar pengurus karang taruna yang bersekretariat di Desa Kedayunan, Kabat, Banyuwangi itu.

Tepat pukul 21.00 wib, diskusi pun ditutup dengan pembacaan puisi oleh Evriliana Dewi. Sebuah puisi tentang kegelisahan seorang warga tua atas kegagalan pengelolaan lahan gambut. (jt0)

Leave A Reply

Your email address will not be published.