Arief Bedel Sajikan Karya Bergaya Naif

0

GIANYAR/terbitdotco – Arief Firmansah Sahidu yang akrab dipanggil Bedel, menampilkan karyanya di Kulidan Kitchen and Space dengan gaya lukis khasnya yang mengambil gaya naif (Naïve Art). Gaya lukis ini dikenal mengambil formalitas dari cara menggambar anak-anak beserta warna-warna yang digunakannya.

Perupa asal Lombok ini belajar berkesenian secara otodidak sejak tahun 2003 setelah menjalaninya hanya sebagai hobi sejak kecil. Pertemuannya dengan Ali Robin, seniman patung
berdomisili di Lombok saat itu, memulainya.

BACA JUGA : Antida Musik Productions Akan Gelar Roctober 2018

Dilanjutkan dengan menekuni menggambar anatomi dan realis di Ubud tahun 2007 dengan Pranoto, lalu bekerja di Jakarta pada tahun 2009, hal-hal tersebut mempengaruhi jalan perkembangan karyanya hingga saat ini.

Bedel menjelaskan, Pameran yang akan di gelar pada 14 hingga 28 Oktober 2018 ini mengambil gaya naive (kekanak-kanakan – red), Ia ambil dengan memaknai bahwa kejujuran tempatnya adalah di usia anak-anak. Kejujuran dalam perspektif orang dewasanya adalah dalam melihat kenyataan kondisi sekitar kita.

“Di situlah kemudian saya bisa menyisipkan pesan-pesan melalui lukisan saya,” ujar Bedel.

Saat menunjukan “The Nightmare”, “Hysterical Holocaust” dan “Before 29 July 2018”, interpretasi Bedel akan karyaannya yang dirasakan penuh warna-warni di tahun 2018 adalah kata ‘rainbow’ (pelangi – red).

BACA JUGA : ISI Denpasar Hadirkan Bijaknya Sosok Tualen

Kata pelangi menjadi yang kuat dan pemantik pemaknaan karya Bedel yang disuguhkan disini. Sebagaimana yang diketahui pelangi sendiri muncul di saat hujan rintik atau sudah berlalu.

Bedel menyampaikan hujan merupakan pembawa kesuburan tanah untuk bercocok tanam dan penopang ekosistem. Akan tetapi, sering juga dilihat sebagai problema keseharian jika hujan dimetaforkan sebagai kesedihan, menjadi malas, dingin, tidak ingin pergi, menjadi alasan kita telat ke suatu tempat, dan sebagainya.

“Padahal, hujan juga menyenangkan untuk anak-anak yang ingin bermain, dan saat pelangi yang warna-warni itu muncul, orang menjadi bersuka ria bahkan ada yang bilang jika melihat dua pelangi merupakan tanda keberuntungan,” tegas Bedel.

Lebih tegas, Bedel mengatakan warna yang membawa bersuka ria diantara hujan yang menyedihkan, ternyata suatu dualisme. Kata dualisme itu juga tercermin dari pandangan Bedel tentang kemanusiaan saat ini.

“Kebanyakan kejadian hari ini adalah sampah belaka, kita lupa akan nilai-nilai baik yang sebenarnya kita miliki,” tegas Bedel.

Sementara itu, Komang Adi, pemilik Kulidan, melihat bagaimana karya Bedel memparodikan situasi kekinian, terutama dengan narasi politik bangsa Indonesia yang sedang carut-marut.

BACA JUGA : Somi Gingsul Bondres Inovatif dan Edukatif

“Dengan pura-pura masa bodo, orang-orang menjadi EGP (Emang Gue Pikirin – red). Padahal kita memikirkan situasi kebangsaan secara mendalam. Sangat prihatin sebenarnya dengan realita jaman ini,” kata Komang Adi.

Sedangkan Savitri Sastrawan, Kurator, menyampaikan Kekaryaan Bedel disini mengangkat suatu permasalahan politik berkemanusiaan seperti “Hysterical Holocaust”, suatu sejarah yang tak tertuliskan seperti “The Nightmare”, dikreasikan penuh semiotika dengan warna-warni yang sangat kuat dapat mengambil perhatian.

“Ada problema-problema yang menjadi pesan-pesan penting yang ingin disampaikannya. Mungkin, sebenarnya kekaryaannya penuh kekelaman, tetapi ia ingin mengajak semua tetap bersuka ria dengan apa yang kita hadapi, bersama-sama,” ujar Savitri.

Savitri mengatakan, visual yang disuguhkan Bedel mengajak kita untuk bersuka ria terhadap dualisme itu, tetapi kembali ke kita sebagai penikmat ataupun pengamat karya.

“Mau mengambil satu makna saja atau sanggup meneguk keduanya?,” tutup Savitri.(*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.